Image by eyesplash Mikul via Flickr
Musim liburan sekolah selain menjadi ajang rekreasi,sering juga dimanfaatkan orang tua untuk menyelenggarakan khitanan atau sunat. Begitu pentingnya khitanan, jadilah ia dirayakan dengan suka cita layaknya pesta, bahkan lebih dari perayaan ulang tahun. Artinya, orang tua harus menyediakan sejumlah dana yang cukup besar khusus untuk perhelatan ini.
Namun, dalam pandangan si anak, sunatan berarti kesempatan untuk mendapat uang. Maklumlah, para undangan tentunya tidak datang dengan tangan kosong. Umumnya amplop kecil berisi uang alias angpau akan diselipkan di sela-sela jari tangan si anak.
Membayangkan mainan apa saja yang bisa dibeli dengan uang hadiah itu, dianggap dapat menstimulasi anak untuk mengatasi trauma pra dan pascasunat. Sebagai orang dewasa kita pun mengakui, uang bukanlah penentu kebahagiaan tetapi bisa membuat segala sesuatu terasa lebih manis.
Jadi, anak-anak juga menyukai uang dan senang membelanjakannya sama seperti orang dewasa. Inilah mengapa konsep mengajarkan perencanaan keuangan untuk anak, bukan dimulai dengan menabung, tetapi menggunakan uang.
Wilayah uang
Anak-anak yang tidak belajar mengambil keputusan keuangan sendiri, cenderung selalu meminta uang orang tua dan akan segera menghamburkan uang yang mereka dapatkan. Namun, mengizinkan mereka berbuat begitu merupakan konsep yang cukup berat untuk bisa diterima oleh kebanyakan orang tua.
Bisakah mereka diberi uang Rp500.000? Tentu saja bisa! Hanya saja Anda berharap uang itu ditabungkan dan tidak dibelanjakan. Anak-anak akan bertanya-tanya, mengapa orang tua memberikan uang kepada mereka jika mereka tidak boleh menggunakannya sesuai keinginan mereka?
Orang tua jelas punya alasan tepat untuk ini, tabungan sangat berguna untuk mempersiapkan dana pendidikan, pernikahan, bahkan sampai membantu mereka membeli
rumah atau mobil nanti. Lebih dari itu orang tua berharap anak-anak memahami betapa sulitnya mendapatkan uang dan orang tua harus bekerja keras untuk itu, sehingga tiap sen yang didapat harus digunakan dengan bijaksana.
Di sini baik orang tua maupun anak-anak sama-sama benarnya – dalam persepsi masing-masing. Perbedaan pandangan ini sebenarnya bisa dijembatani dengan menetapkan tiga wilayah uang, yakni uang anak, uang orang tua, dan uang bersama,
Uang anak
Ini adalah area pengelolaan keuangan yang boleh diputuskan oleh anak. Misalnya, pengelolaan uang saku boleh diserahkan kepada anak, sebab besarnya maupun
jadwal pemberiannya masih bisa ditoleransi orang tua.
Uang saku biasanya diberikan orang tua kepada anak dalam jumlah terbatas untuk memenuhi kebutuhan akitivitas sekolah dan pergaulan secara terjadwal harian, mingguan atau bulanan.
Ada juga uang saku tambahan, misalnya, dalam rangka mengisi kegiatan liburan atau untuk dibelikan oleh-oleh ketika pergi berlibur. Karena ini wilayah kuasa anak, maka mereka bebas menggunakannya atau memutuskan untuk menabung sejumlah tertentu untuk mewujudkan hal-hal yang mereka inginkan.
Jika anak mendapat uang bukan dari orang tua, misalnya dari kakek nenek, paman, bibi, saudara, hadiah atas prestasinya, maka uang ini masuk dalam wilayah kuasa anak. Namun, jika jumlahnya besar, sangat dianjurkan orang tua memberikan saran dan pengawasan, termasuk menyimpannya dalam tabungan di bank.
Di wilayah ini anak-anak dapat belajar merencanakan keuangan, dengan mengambil tanggung jawab keputusan keuangan untuk kebutuhan jangka pendeknya dan dalam
jumlah terbatas yang masih bisa ditoleransi oleh orang tua.
Uang orang tua
Area pengelolaan keuangan yang menjadi kekuasaan orang tua, misalnya, biaya hidup anak yang termasuk dalam pengeluaran rumah tangga seperti makanan, pakaian,
kesehatan, rekreasi atau segala keperluan anak yang juga menjadi pengeluaran bersama.
Orang tua boleh menentukan apa saja pengeluarannya, untuk apa dan berapa jumlahnya karena sifatnya menjadi pengeluaran keluarga sehingga menjadi peraturan yang berlaku untuk tiap anggota keluarga. Di wilayah ini anak-anak belajar berkompromi dalam berbagai aspek keuangan yang melibatkan seluruh anggota keluarga
Uang bersama
Area pengelolaan keuangan yang menjadi wilayah bersama orang tua dan anak yang bersangkutan. Biasanya untuk kebutuhan jangka panjang atau menyangkut pengelolaan
uang dalam jumlah besar sehingga timbul konsekuensi finansial yang signifikan.
Misalnya, persiapan dana pendidikan anak. Orang tua kemungkinan terpaksa melakukan penyesuaian- penyesuaian dalam keuangannya termasuk menghemat kebutuhan- kebutuhan lain untuk membayar uang sekolah anak dan ini akan berlangsung dalam waktu lama sejalan dengan proses jenjang pendidikan anak.
Orang tua dapat memberitahukan kepada anak-anak mengenai adanya kebutuhan dana pendidikan di masa depan ini dan apa akibatnya jika tidak dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Bukan dengan maksud mengalihkan tanggung jawab orang tua kepada anak. Namun, memberikan pemahaman mengenai adanya kebutuhan masa depan dalam kurun waktu yang lebih panjang bukan hanya ‘besok’, sekaligus memberi contoh jalan keluarnya
dengan menabung. Di sini anak belajar memahami komitmen dan tanggung jawab keuangan yang lebih besar.
oleh : Mike R. Sutikno
DIarsipkan di bawah: peristiwa, renungan, tip's & trick | Tagged: Add new tag, Business and Economy, Indonesia, Internal, Martial Arts, Microsoft, Sports, Tai Chi


